Yang Belum (Pernah) Merdeka (?)

Guru Yang Belum (Pernah) Merdeka (?)

Rahadian Zainul, pernah jadi guru di SMU PGRI 3 Padang (1997-1998)

—-

Entah apa iya, Guru jadi nomor satu di negeri ini. Apa iya profesi guru menjadi idola. Apa benar pentas kita ada di sini, tempat mulia, tanpa tanda jasa. Apa benar guru menjadi tumpuan peradaban dan kemajuan suatu bangsa. Apa benar benar bangsa dan Negara ini berpihak kepada guru. Apakah kita semua menginginkan yang terbaik atau hanya sekedar basa basi. Apakah Guru memang selalu ada di hati, walau kita sebenarnya tak pernah menaruh hati terdalam? Apakah guru memang jadi penentu, atau hanya peran pembantu. Apa iya ini semua, ketika hari ini dating, hari guru, lalu kita merasa merdeka dan naik satu tingkatan.

—-

Yang pasti, Pengalaman kerap menampar!. Oooo…. Guru. Ooo….Calon Guru……… Bakalan jadi guru…. Atau apalagi ya, yang jelas kurang enak aja mendengar vocal O yang cukup panjang, kalau menyebut kaum pendidik. Padahal, kalau bukan karena Guru, nggak bakalan ada Jenderal. Kalau bukan karena guru nggak akan ada dokter, insinyur, dan profesi lainnya. Sayangnya, di negeri ini yang katanya menghargai kaum pendidik (Guru), masih kerap tersenyum tipis kalau bicara soal Guru dan calon Guru. Terlepas ada guru yang jadi idola, tetap saja siswa siswa pintar bahkan anak guru sekalipun enggan untuk menjadi Guru. Bandingkan profesi lainnya, tak jarang jika orang tuanya Dokter, anaknya juga pengin jadi Dokter, dan seterusnya….. Tapi, entah kenapa, kita sendiripun juga terperangkap (termasuk saya), untuk belum merdeka dari identitas lama, yang terlanjur jatuh penilaiannya.

—-

Merdeka, inilah kuncinya masa depan Guru kita. Kita tak akan bisa merubah bangsa dengan membelenggu stigma dan paradigm kita sendiri. Hanya dengan memutus rantai, kita bisa berdiri di depan. Guru guru ternama dan menorehkan sejarah, adalah guru yang bicara dengan cinta, terbuka, dan apa adanya. Kita bukan menjadi karena masa lalu. Kita bukan juga karena kita hanya di depan kelas. Kita akan membuat sejarah bagi masa depan, kita lah yang sebenarnya yang paling mulia dan menentukan masa depan. Kita, para guru guru yang mulia, jauh lebih tinggi derajatnya dari profesi apapun di negeri ini. Kalau bukan karena Guru, bangsa ini telah lama berlalu. Hanya dengan memerdekakan pikiran dan menempatkan Guru di tempat terttinggi, di atas apapun profesi, kita bisa menjadi bangsa besar. Belajarlah bagaimana Jepang menempatkan guru menjadi teratas di negeri itu, dihormati dan disegani. Wahai para guru, tegakkan dada, bicaralah dengan hati dan tunjukkan bahwa kita adalah yang termulia dan terbaik dalam eksistensi bangsa ini, bukan Dokter, bukan Jenderal, bukan insinyur, tetapi Guru lah yang terbaik dan penentu maju dan mundurnya bangsa ini. 

Prima Regency, 25 November 2019